UPS dan data center mungkin bisa di sebut sayur tanpa garam, hambar jika tidak saling melengkapi.
Tapi untuk menentukan kebutuhan akan UPS data centerperlu
perhitungan yang matang agar UPS dan server tetap awet dan selalu ON 24
jam. banyak sekali jenis UPS dan daya yang di tawarkan. Kita harus
menghitung kebutuhan beban keseluruhan server agar ketika listrik down
UPS dapat menghandle beberapa detik untuk listrik pindah ke genset
begitu pula sebaliknya, Oke untuk menentukan itu semua tentukan dulu
jenis UPS yang akan anda gunakan.
Oke kita sedikit belajar dulu tentang UPS :)
PRINSIP KERJA UPS
Setiap PC membutuhkan daya listrik. Apabila aliran listrik (main power)
terputus, PC akan mati (tidak berfungsi). Fungsi dasar UPS
(Uninterruptible Power Supply) adalah menyediakan suplai listrik
SEMENTARA ke beban (PC) tanpa terputus pada saat main power tidak
bekerja agar seluruh proses dapat dihentikan dengan benar, seluruh data
dapat disimpan dengan aman, dan komputer dapat dimatikan dengan benar.
Jadi fungsi UPS itu BUKAN agar user tetap dapat bekerja.
UPS
memiliki dua sumber daya listrik : Primary Power Source dan Secondary
Power Source. Salah satunya berasal dari main power (stop kontak / PLN),
satunya dari baterai UPS. Di dalam UPS terdapat Switch yang mengatur
sumber daya listrik yang digunakan untuk menyediakan suplai listrik ke
beban (PC). Jika Primary Power Source tidak berfungsi, Switch akan
mengaktifkan Secondary Power Source secara otomatis. Begitu juga
sebaliknya jika Primary Power Source sudah kembali berfungsi.
PSU
komputer membutuhkan arus listrik AC, sedangkan arus listrik dari
baterai adalah DC. Oleh karena itu, di dalam UPS terdapat Inverter yang
mengubah arus DC dari baterai menjadi arus AC. Di dalam UPS juga
terdapat Rectifier yang mengubah arus AC dari main power menjadi arus DC
untuk mengisi baterai pada saat main power bekerja.
Noise
Apabila tegangan (voltase) naik/turun tetapi hamya sedikit
(persentasenya kecil). Kalau standar 220 volt, sekitar 200 - 240 volt
itu masih bisa dianggap noise. Kalaupun selisih banyak, biasanya
bertahap (tidak langsung drop banget atopun tinggi banget). Nois yang
seperti ini apabila sering terjadi akan merusak perangkat computer atau
jaringan karena suplay listrik tidak stabil. Noise yang semacam ini
biasa diatasi dengan menggunakan AVR. AVR pun ada kelasnya, ada yang
hanya model sirkuit harga 50 ribuan, ada yang servo-motor harga 200
ribuan, ada yang ferro-resonant harga 700 ribuan (untuk 500VA). Ada
harga ada rupa. PSU yang bagus juga biasanya sanggup ngatasi masalah
Noise walopun tidak menggunkan AVR di luar PC.
Blackout
Apabila main power (PLN) tidak bekerja. Fungsi dasar UPS untuk mengatasi
Blackout. Untuk tes UPS yang paling dasar yaitu cabut kabel power UPS
nya dari stop kontak kondisi computer menyala. Tinggal diliat
komputernya mati/restart tidak.
Brownout / Sag
Ini kalau tegangan (voltase) dari main power turun (drop) dan naik lagi
(kembali) dalam waktu yang sangat cepat. Dropnya bisa nyampe setengah
dari yang seharusnya, dan waktunya hanya sepersekian detik. Kita kadang
bisa mendeteksi adanya Brownout ini ketika lampu di ruangan seperti
berkedip.
Penyebab Brownout pada umumnya adalah karena ada
tambahan beban berat (heavy load) di jaringan listrik, misalnya ada yang
nyalain mesin las listrik atau mesin produksi kapasitas besar. Tambahan
bebannya itu tidak harus di rumah / kantor kita, bisa saja tetangga
kita yang menyalakan mesin trus berpengaruh ke listrik kita lewat
jaringan PLN.
Brownout ini lebih berpotensi menimbulkan masalah
dibanding Blackout. UPS murahan belum tentu bias mengatasi masalah
Brownout ini. Yang harus diingat, kemampuan UPS untuk mengatasi Brownout
ini TIDAK BISA dites dengan cara memutus main power ke UPS &
menyambungnya kembali walaupun dalam waktu yang sangat singkat.
Surge & Spike
Kebalikan dari Brownout / Sag, ini kalau tegangan (voltase) dari main
power melonjak dan turun lagi (kembali) dalam waktu yang sangat cepat.
Naiknya bisa nyampe puluhan kali dari yang seharusnya, dan waktunya
hanya sepersekian detik. Jadi kalau tegangan normal listrik kita 220
volt, surge ini bisa mencapai 2000 volt atau bahkan 10000 volt.
Penyebab
Surge pada umumnya adalah karena ada berhentinya beban berat (heavy
load) di jaringan listrik, misalnya waktu mesin las listrik atau mesin
produksi kapasitas besar dimatiin. Surge juga bisa terjadi ketika main
power kembali nyala setelah terjadinya Blackout.
Istilah Spike lebih
sering dipake untuk lonjakan tegangan akibat petir (lightning strikes).
UPS berkualitas tinggi biasanya juga dilengkapi dengan Surge Protector.
JENIS - JENIS UPS
Pada dasarnya,
UPS ada 2 jenis, yaitu OFFLINE dan ONLINE. Perbedaannya adalah pada
sumber daya listrik mana yang jadi Primary Power Source, mana yang jadi
Secondary Power Source.
Pada UPS jenis OFFLINE, sumber listrik
primer adalah stop kontak / PLN, sumber listrik sekunder adalah inverter
(dari baterai). Beberapa yang termasuk istilah lain ataupun varian dari
OFFLINE UPS ini antara lain : Standby UPS, Ferroresonant-Standby UPS,
Line-Interactive UPS, Voltage & Frequency Dependent (VFD) UPS,
Voltage Independent (VI) UPS.
Karakteristik penting yang ada pada
Offline UPS adalah adanya Switch Time atau Transfer Time, yaitu waktu
yang diperlukan oleh Switch untuk pindah dari sumber listrik primer ke
sumber listrik sekunder pada saat sumber listrik primer dianggap gagal
berfungsi, sehingga ada jeda waktu dimana beban tidak mendapat listrik.
Offline
UPS generasi sekarang biasanya memiliki Transfer Time kurang dari 4
milidetik (4 ms). Cukupkah Transfer Time 4ms? Tergantung PSU. Di PSU ada
spesifikasi Hold Time atau Holdup Time yang menunjukkan berapa lama PSU
masih bekerja sebelum benar - benar mati jika aliran listrik terputus.
Penjelasan
singkat mengenai Hold Time atau Holdup Time yang penting Transfer Time
nya UPS harus lebih kecil daripada Hold Time PSU. Adanya Transfer Time
membuat sebagian orang tidak menganggap Offline UPS sebagai UPS karena
tidak benar - benar "uninterruptible".
Transfer Time 4ms biasanya
cukup untuk PSU abal-abal sekalipun. Cara membuktikannya sama dengan
cara membuktikan kemampuan UPS mengatasi Blackout seperti yang sudah
dijelaskan di atas.
Pada UPS jenis ONLINE, sumber listrik primer
adalah inverter (dari baterai). Inverter bekerja terus - menerus
menyediakan listrik dari baterai untuk beban (PC), sedangkan rectifier
dari AC ke DC bekerja terus - menerus untuk mengisi baterai. Itu
sebabnya juga disebut DOUBLE CONVERSION UPS atau DOUBLE CONVERSION
ONLINE UPS. Kalau main power tidak berfungsi, hanya rectifier dari AC ke
DC yang berhenti bekerja, sedangkan kerja inverter tidak berubah (tidak
ada Transfer Time / Switch Time). UPS jenis ini juga disebut Voltage
& Frequency Independent (VFI) UPS karena tegangan dan frekuensi
outputnya tidak dipengaruhi oleh input.
Pada Online UPS juga
terdapat Switch yang otomatis mengambil aliran listrik dari sumber
listrik sekunder (langsung dari PLN) jika inverter / baterai tidak
bekerja. Biasanya Switch ini juga bisa difungsikan secara manual (manual
bypass) untuk maintenance baterai. Tidak adanya Transfer Time / Switch
Time membuat sebagian orang menyebut Online UPS sebagai "True UPS".
UPS Type / Topology
Jenis
UPS ini yang paling penting. Intinya: ONLINE atau OFFLINE? Biasanya,
kualitas inverter di Online UPS secara umum lebih baik daripada di
Offline UPS. Hal ini karena diasumsikan inverter di Offline UPS hanya
berfungsi kadang - kadang dan dalam waktu yang relatif singkat. Jadi
kalau kualitasnya tidak sama persis dengan listrik PLN ya dianggap tidak
terlalu berisiko merusak PC. Berbeda dengan Online UPS yang inverternya
bekerja terus - menerus, jadi kualitas outputnya harus bener - bener
bagus.
Load Rating (Capacity & Run Time)
Kapasitas
UPS tinggal disesuaikan dengan kebutuhan. Mau dipake berapa PC? Total
daya berapa Watt? Yang harus diingat, kapasitas UPS (juga perhitungan
beban) ini bisa dinyatakan sebagai Apparent Power, bisa juga sebagai
True Power.
True Power = Power Factor x Apparent Power
Biasanya
Apparent Power dinyatakan dalam satuan VA (Volt-Ampere), sedangkan True
Power biasa dinyatakan dalam satuan Watt. Jadi ada UPS yang nulis spec
Maximum Load-nya 600VA (480 Watt). Artinya Apparent Power = 600VA, True
Power = 480Watt, Power Factor = 0,8. Kalau di spec UPS cuma ada Apparent
Power (pake satuan VA), untuk amannya ambil Power Factor (faktor daya) =
0,6.
Dari penjelasan di atas sudah dapati disimpulkan jenis atau type UPS
yang bagus, berapa kapasitas yang diperlukan untuk server, yah
kesimpulannya tentukan dulu bebean semua server jika sudah ketemu
seberapa besar kebutuhan UPSnya selanjutkan pilih jenis UPS yang model
ONLINE dan instalasi UPS yang baik dan benar, untuk isntalasi UPS yang
baik akan di sambung di artikel berikutnya. Terimakasih semoga
bermanfaat :)